Sabtu, 20 Mei 2017

Daddy O Daddy

Daddy O Daddy Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Inilah rumahku, rumah yang penuh “kejutan”. Kejutan? yah, “Kejutan”. Di rumah ini aku tinggal bersama Daddy dan Mom-ku¬, ada juga beberapa penjahat kecil yang mengaku dirinya sudah dewasa yang semakin memperbanyak “kejutan” di rumah ini. Itu kakak-ku Marshela dan Argha, mereka itu “kompak” dalam segala hal. Mom dan Dad itu couple yang sangat perfect di mataku. Mom adalah seorang dosen sastra Inggris di salah satu Universitas di kota-ku, sedangkan Dad adalah seorang diplomat kepercayaan seorang duta besar. Marshela dan Argha itu “kompak” mereka adalah mahasiswa jurusan ekonomi yang mempunyai umur tidak jauh beda, hanya satu tahun. Dan aku? aku adalah anak SMA yang baru mengenyam dunia keremajaan yang benar-benar baru untukku, jauh dari yang namanya mainan dan teman-teman bermain. Jauh dari taman bermain dan alat masak-masakan, berlebihan memang.

Di garda terdepan rumahku tiada lain tiada bukan adalah kamar Mom dan Dad. Jadi setiap manusia yang masuk ataupun keluar dari rumah pasti melewati kamar itu. jangan pernah berfikir untuk meloncat pa
... baca selengkapnya di Daddy O Daddy Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Jumat, 19 Mei 2017

Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton

Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : KEMBALI KE TANAH JAWA

BAB 1

Pendekar 212 Wiro Sableng dan Kinasih yang sembunyi di balik semak belukar di belakang sederetan pohon-pohon besar tidak menunggu lama. Yang muncul ternyata bukan Momok Dempet Berkaki Kuda, tapi serombongan penunggang kuda terdiri dari lima orang. Mereka berseragam hitam, bertampang sangar ganas. Rambut rata-rata panjang sebahu, kepala diikat kain hitam, muka tertutup kumis, janggut dan cambang bawuk meranggas. Di pinggang terselip golok besar yang gagangnya berbentuk sama yakni ukiran tengkorak. Kelima orang ini membawa buntalan besar, digantung di leher kuda masing-masing.

"Siapa mereka. Pasti orang-orang jahat..." bisik Kinasih.

Wiro memberi anda agar Kinasih segera menutup mulut.

Penunggang kuda paling depan tiba-tiba angkat tangan kirinya. "Kita berhenti di sini. Hitung jarahan!" Orang ini memiliki cacat di pertengahan kening, membelintang melewati mata kiri membuat matanya mencelet keluar, merah mengerikan. Tampangnya paling seram dibanding dengan empat kawannya. Dari ucapan serta sikap agaknya dia yang menjadi kepala rombongan.

Empat penunggang kuda lain segera hentikan kuda masing-masing lalu melompat ke tanah, turunkan buntalan. Buntalan itu mereka letakkan di tanah di hadapan pimpinan mereka.

"Buka!" perintah si mata cacat.

Empat orang berpakaian
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rabu, 17 Mei 2017

Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang

Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Kiai Bangkalan menggeletak di lantai batu dalam Goa Belerang. Sedikit pun tubuh itu tidak bergerak lagi karena nafasnya sudah sejak lama meninggalkan tubuh!

Orang tua itu menggeletak menelentang. Dua buah keris kecil yang panjangnya hanya tiga perempat jengkal berhulu gading menancap di tubuh Kiai Bangkalan. Darah bercucuran menutupi seluruh wajahnya.

Dalam jari-jari tangan kiri Kiat Bangkalan tergenggam secarik kertas tebal empat persegi. Sedang tepat di ujung jari telunjuk tangan kanannya, yaitu pada lantai batu tergurat tulisan:

TAMBUN TULANG

Pendekar 212 Wiro Sableng yang berdiri di dekat tubuh tak bernyawa Kiai Bangkalan tidak mengetahui apa arti dua buah kata itu. Apakah nama seseorang yaitu manusia yang telah membunuh orang tua itu, ataukah nama sebuah tempat. Yang diketahuinya ialah bahwa si orang tua telah menuliskan dua buah kata itu pada saat-saat menjelang detik kematiannya karena ujung jari tangan yang dipakai menulis masih terletak kaku di atas huruf terakhir kata yang kedua.

Diam-diam Wiro Sableng memaki dirinya sendiri. Seharusnya dia datang lebih cepat ke Goa Belerang itu sehingga nasib malang begitu tidak terjadi atas diri si orang tua. Kiai Bangkalan tempo hari telah menyuruhnya datang dan menjanjikan akan membe
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1